Selasa, 09 Oktober 2018

UKM Lokal Menjadi Sorotan Pada Malang Batik Parade 2018

UKM Lokal Menjadi Sorotan Pada Malang Batik Parade 2018
UKM Lokal Menjadi Sorotan Pada Malang Batik Parade 2018
Batik Indonesia dituliskan dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Manusia UNESCO pada 2 Oktober 2009. Upaya pelestarian batik telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pihak swasta, pemerintah dan akademisi.

Dalam pertunjukan apresiasi untuk seni batik, Malang Batik Parade 2018 diadakan untuk kedua kalinya setelah debutnya pada tahun 2016. Acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan usaha kecil dan menengah Malang (UKM) kepada masyarakat luas.

“Ada 18 desainer dari Malang, Surabaya dan Jakarta yang berpartisipasi dalam peragaan busana runway, serta 25 penyewa dari UKM lokal yang memamerkan karya mereka,” kata koordinator acara Malang Batik Parade 2018 Dorothy Soeryo kepada The Jakarta Post pada hari Minggu, Oktober. 7, di Hotel Savana, Malang, Jawa Timur.

Acara ini memamerkan berbagai kegiatan seperti pendidikan batik untuk UKM dan siswa, serta kontes Miss Batik Indonesia. “Kami berharap lebih banyak desainer batik nasional dan internasional serta UKM berpartisipasi di acara kami berikutnya pada 2020,” tambah Dorothy.

Perancang yang berbasis di Jakarta, Ichwan Thoha mempresentasikan 16 desain barunya sebagai bagian dari koleksi "Kontradiktif" di acara tersebut. “Koleksi ini menampilkan batik Betawi yang saya desain dengan gaya flamboyan, aktif dan modern,” kata desainer pakaian pria.

Agus Sunandar, seorang profesor mode dari Universitas Negeri Malang mempresentasikan koleksi berjudul "Runako", menampilkan desain gaya urban dengan menggunakan batik sebagai bahan utama. Sementara itu, Noor Umer dari Dinas Perindustrian Malang mempresentasikan batik dengan desain pakaian Muslim yang elegan.

Selain acara pacu desainer, perusahaan kecil menengah Malang juga menyoroti produk mereka. Evie Kurniawati memamerkan koleksi batik eco-print dengan pola dicetak menggunakan daun. Rahmi Masita memamerkan kain batik organiknya, yang sekarang dikenal sebagai hadiah pribadi bagi mereka yang mengunjungi lokakarya Hermés di Perancis.

Pengrajin batik, Henry Kyo menyoroti pola Malang dalam karyanya, “Karakter Malang dalam persepsi saya kuat seperti singa. Saya menafsirkan filosofinya dalam motif saya, ”katanya.

Tagged: , , ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.