Rabu, 14 November 2018

INDONESIA NEGARA MARITIM DAN TANAH SUBUH NAMUN NELAYAN & PETANINYA MISKIN


Melihat petani dan nelayan masih miskin di Indonesia,padahal Indonesia adalah negara maritim dan memiliki tanah yang subur,Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan keprihatinannya pada kondisi nelayan di Indonesia.

Agar Industri perikanan menciptakan ekspor besar dengan nilai tambah serta menghasilkan lapangan kerja yang banyak,solusi yang diajukan Menteri Bambang kepada pelaku industri dikelautan dan perikanan adalah mulai meninggalkan konteks tradisional dan fokus pada teknologi.

Mereka harus bisa diversifikasi dan diversifikasi yang terbaik adalah nilai tambah,beliau mengingatkan agar Indonesia tidak bergantung pada Sumber Daya Alam,jangan sampai Indonesia ke depan adalah sangat tergantung dengan SDA.

Dari data BPS nelayan miskin itu 20% jika dari standar miskin Bank Dunia memakai USD 2,5/hari itu yang masih miskin masih 48%,sementara itu Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB Rokhmin Dahuri menjelaskan nelayan berada di angka 20 hingga 48% dan 10-30% pembudidaya masih miskin.

Contoh : 625.633 unit kapal ikan hanya 3.811 unit yang tergolong modern dan dari 380.000 ha tambak ikan,hanya 10 % yang modern kemudian dari 60.885 unit Pengelolahan Ikan hanya 178 yang modern.

Dalam kategori kesejahteraan tertulis program peningkatan SDM dan inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas sumber daya,Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Suseno Sukoyono menjabarkan gagasan dalam draft awal Rancangan teknokratik Pembangunan Kelautan dan Perikanan tahun 2020-2024.

Tagged:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.