Kamis, 22 Februari 2018

APLIKASI PERPUSTAKAAN DIGITAL iJAKARTA TERUS MENGALAMI PENINGKATAN
APLIKASI PERPUSTAKAAN DIGITAL iJAKARTA TERUS MENGALAMI PENINGKATAN
Merasa berbagi dan menemukan teman baru dengan minat yang sama dalam buku? Coba ijakarta, aplikasi perpustakaan digital berbasis media sosial yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi aplikasi gaya hidup berbasis konten.

Dengan cerdik menggunakan kecenderungan pengguna media sosial untuk berbagi aktivitas dan minatnya, ijakarta menyediakan platform yang luas. Pengguna dapat mengeposkan buku apa yang mereka baca, mereka dapat menemukan pengguna dengan minat yang sama, dan kemudian dapat membangun interaksi dan komunitas di dalam sistem.

Diluncurkan pada bulan Oktober 2015, aplikasi ini sekarang memiliki lebih dari 106.000 pengguna. Ada 14.389 judul yang tersedia dari 62 penerbit. ijakarta terinspirasi oleh aksaramaya disamping pemerintah kota jakarta. Keterlibatan tokoh masyarakat dalam kampanye keaksaraan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan pengguna baru. Beberapa pemerintah daerah juga menyatakan minatnya untuk membangun perpustakaan digital di daerah masing-masing.

CEO Moco Sulasmo Sudharno mengatakan bahwa masa depan ekonomi negara terletak di perpustakaan. "Saya melihatnya sebagai model pembagian ekonomi, dampak teknologi digital," katanya. Sistem perpustakaan sedikit berbeda dengan yang konvensional, dimana ada batas waktu pinjaman dan jumlah buku yang bisa dipinjam dalam seminggu. Ketika seorang pengguna gagal mengembalikan buku pinjaman tersebut pada waktunya, mereka tidak akan dapat membacanya.

Informasi buku tercantum di aplikasi, bersamaan dengan jumlah salinan yang tersedia dan komentar dari pengguna lain. Jika semua salinan judul dipinjam, pengguna akan masuk ke daftar tunggu. Pengguna juga dapat menyumbangkan buku ke perpustakaan digital yang ada, dan mereka bahkan bisa meyakinkan komunitas mereka untuk membangunnya di wilayah mereka.

Sulasmo mengatakan bahwa jumlah daftar tunggu bisa mengindikasikan pertanda baik bagi penerbit. "Respon yang baik terhadap buku digital biasanya berarti mereka juga bisa melakukannya dengan baik dalam format cetak, bahkan menjadi best seller," katanya.

Partisipasi masyarakat didorong melalui epidote, atau perpustakaan digital pribadi untuk perorangan, kelompok, atau organisasi nirlaba. Laman epik dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan dapat menjadi media bagi pengguna dan pembaca dalam berbagi referensi, membuat dialog atau sebagai platform untuk mempublikasikan karya penulis amatir.

Tagged: , , ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.