Selasa, 17 Oktober 2017

GUBERNUR BARU JAKARTA PERLU BERTINDAK CEPAT

GUBERNUR BARU JAKARTA PERLU BERTINDAK CEPAT
GUBERNUR BARU JAKARTA PERLU BERTINDAK CEPAT
Sudah saatnya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta bekerja dan menyesuaikan diri dengan waktu, mewujudkan amanat kekuasaan yang hari ini (Senin, 16/10) ditahbiskan. Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno kini secara resmi memiliki kekuatan yang sah untuk memimpin birokrasi Provinsi DKI Jakarta.

Jangan merayakan pesta dan tidak lantas larut dalam euforia, karena tantangan sebenarnya sudah terlihat di depan mata. Orang-orang harus bergerak cepat, semakin, berani mengambil risiko di koridor hukum, dan mematuhi peraturan.

Agenda Rekonsiliasi
Ada sejumlah catatan yang terkait dengan dimulainya masa Anies-Sandi di DKI. Yang pertama dan terpenting yang harus dilakukan adalah menunjukkan kemauan dan kemauan politik yang serius untuk menjembatani semangat rekonsiliasi warga DKI yang terpolarisasi sedemikian rupa sehingga berbeda pandangan dan pilihan politik mereka. Pendukung Ahok-Djarot tidak bisa diabaikan, mengingat jumlah pemilih dengan karakteristik pemilih yang kuat dari pasangan ini terbukti sejak prosesi pemilihan sampai sekarang.

Kita bisa melihat data Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta yang menjadi gambaran putaran kedua Pemilukada DKI Jakarta saat kepala Anies-Sandi berhadapan dengan Ahok-Djarot. Ada 7.218.280 pemilih dalam pemilihan pemilihan umum (Pemilu) di Pemilu DKI Jakarta, sedangkan yang memiliki hak suara memiliki 5.532.436 suara. Ya, pasangan Anies-Sandi menang secara signifikan dengan selisih 15,92 persen. Warga yang memilih Anies-Sandi 57,96 persen atau sekitar 3.240.987 pemilih dan yang memilih Ahok-Djarot 42,04 persen atau 2.350.366 pemilih.

Dengan demikian pemilih Ahok-Djarot sebesar 2,3 juta dan tidak mengharapkan Anies-Sandi menjadi gubernur harus diyakinkan dan dipeluk bahwa tidak ada lagi penataan ulang, tidak ada konflik, dan gubernur dan wakil gubernur akan menjadi pemimpin semua warga DKI apapun. kelompok, agama, etnis, dan pilihan politik.

Membaca konflik dalam pemilihan tidak harus selalu dianggap negatif dan merusak. Dalam perspektif teori konflik, sosiolog konflik Amerika Lewis Coser (1913-2003) memandang konflik tidak selamanya menghancurkan sistem sosial. Konflik dan integrasi sebagai dua sisi itu bisa saling memperkuat dan saling melemahkan.

Pandangan Coser seperti dikutip Wallace & Wolf, teori sosiologis kontemporer: melanjutkan tradisi klasik (1986), membedakan dua jenis dasar konflik realistis dan tidak realistis. Pertama, konflik realistis memiliki sumber daya konkret atau material, seperti sengketa sumber daya seperti pertarungan pemilihan, yaitu orang-orang yang memperjuangkan 'kursi'. Dengan mendapatkan posisi JakartaI-1 dan 2, pasti akan berdampak pada pengelolaan tenaga sesuai dengan skema yang dimilikinya. Jika pemilihan selesai, konflik akan segera mereda dan biasanya bisa diselesaikan dengan baik melalui koridor hukum dan hubungan interpersonal.

Kedua, konflik yang tidak realistis didorong oleh keinginan irasional dan cenderung ideologis. Dalam hal ini, konflik antar agama, antar etnis dan antar kepercayaan. Konflik semacam ini cenderung sulit untuk menemukan solusi, terutama untuk re-konsensus dan perdamaian.

Seperti luka yang dalam, konflik yang dipicu oleh masalah agama, etnis, dan kepercayaan sangat sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu, pemilihan DKI beberapa waktu lalu terkonsentrasi dengan isu-isu yang diakhiri dengan SARA, maka terpilihlah gubernur dan wakil gubernur memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk menjadwalkan sejumlah program dan kegiatan rekonsiliasi dan menegaskan kembali semangat keanekaragaman.

Tagged: ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.