Seekor orang utan Tapanili (Pongo tanpanuliensis) di temukan dalam kondisi terluka di batabgtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut). Di duga orang utan itu terluka karena kekerasan yang di lakukan masyarakat sekitar kawasan lindung tersebut.
Orang utan jantan yang di perkirakan berusia sekitar 30 tahun itu di evakuasi tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut dari pembekuan warga di Desa Aek Batang Paya, Kecamatan Sipirok. Lokasi ini berdasarkan dengan Kawasan Ekosistem Batangtoru.”Kita evakuasi, satu orang utan. Sekarang lagi diobati,”kataKepala BBKSDA Sumut Hotmauli Siaturi di Medan, Jumat (20/9).
Proses evakuasi itu berlangsung pada Rabu (18/9). Ini bermula dari laporan warga tentang keberadaan orang utan yang terluka. Seterusnya hewan tersebut di bawa ke pusat Karantina dan Rehabilitasi Orang utan di batu Mbelin, kabupaten Deli Serdang. Ada beberapa luka di tubuh orang utan tersebut. Antara lain di bagian pelipis dan di badan bagian belkang. Dugaan sementara, luka tersebut di akibatkan benda tajam.
Kasus konflik orang utan Tapanuli dengan warga memang kerap terjadi, tapi belum pernah seperti ini. Pemicunya, karena sekarang sedang musim petai dan musim durian, orangutan banyak menongkrongi pohon-pohon milik petani setempat. "Konflik selama ini ada saja. Cuma bisa kita halau, usir masuk lagi ke dalam hutan. Ini masalahnya lagi musim buah di sana. Makan durian, makan petai. Sudah cukup banyak yang turun ke kebun. Sudah cukup banyak durian yang dimakan memang," kata Hotmauli.
Sebenarnya, kata Hotmauli, dalam dua bulan terakhir, ada petugas BBKSDA yang memonitor pergerakan orang utan di seputar Batangtoru karena sedang musim buah. Hal ini untuk mengantisipasi konflik warga dengan orang utan, tapi personel terbatas dan area demikian luas, sehingga tidak semua lokasi terjangkau.






0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.