MAKAM BUNG KARNO DI BLITAR MENJADI TUJUAN WISATA LIBURAN IDUL FITRI
Makam bapak pendiri Indonesia, Sukarno atau Bung Karno, telah menjadi tujuan favorit bagi para wisatawan religius yang mengunjungi Blitar di Jawa Timur selama liburan Idul Fitri.
Meskipun kurang populer daripada pantai dan taman rekreasi di daerah itu, kuburan tetap populer di kalangan mereka yang menjunjung tinggi tradisi ziarah selama liburan keagamaan. Ziarah berarti mengunjungi tempat-tempat yang dianggap memiliki inspirasi ilahi atau spiritual. Biasanya, orang mengunjungi kuburan anggota keluarga mereka atau tokoh masyarakat.
Petugas pemakaman Bung Karno, Kahfi Amnezar, mengatakan bahwa sejak hari Rabu, hari pertama liburan Idul Fitri, hingga Jumat ada antara 700 hingga 900 pengunjung setiap hari.
"Tentu orang masih lebih suka pantai dan taman rekreasi," katanya. Namun, makam itu menjadi daya tarik bagi wisatawan spiritual, Amnezar menambahkan.
Hari kedua liburan Idul Fitri, 6 Juni, juga merupakan hari ulang tahun Sukarno. Ia lahir pada tahun 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Pada 1950-an selama periode Demokrasi Terpimpin, presiden pertama memperkenalkan konsep politik yang disebut Nasakom, atau kesatuan revolusioner nasionalisme, agama, dan komunisme. Para sejarawan mengatakan bahwa banyak orang Indonesia cenderung menggarisbawahi peran Sukarno dalam kelahiran Pancasila sambil dengan mudah melupakan ide-ide kirinya.
Namun, kata Amnezar, banyak turis termasuk makam Sukarno di antara kunjungan ziarah ke kuburan Wali Songo, sembilan orang bijak yang diyakini telah membawa Islam ke kepulauan. Untuk Muslim Jawa tradisional, katanya, Soekarno diyakini sebagai wali ke-10.
"Itulah sebabnya ada lebih sedikit rekreasi dari nada spiritual untuk kunjungan ke kuburan," lanjut Amnezar.
Namun, selama liburan sekolah pengunjung pergi ke sana untuk tujuan pendidikan, dengan bus dari sekolah menurunkan hingga 1.000 anak-anak di lokasi.
Namun, beberapa orang berkunjung sebagai bagian dari tradisi mudik mereka.
"Ketika di Blitar untuk melihat keluarga, saya datang ke sini," kata Indri, seorang pengunjung dari Jakarta.
Terlepas dari hubungan erat dengan wisata spiritual, pemerintahan Blitar dan keluarga Sukarno terus mengembangkan kuburan Sukarno untuk aspek wisata lainnya juga. Selama masa kepresidenan putri Sukarno, Megawati Soekarnoputri, pemerintah membangun Perpustakaan Bung Karno sebagai bagian dari perluasan kompleks makam.
“Ini untuk memperluas aspek pariwisata, dari dominasi pengunjung religius ke pengunjung yang memiliki sejarah atau pendidikan juga,” kata kepala Badan Pariwisata dan Kebudayaan Tri Iman Prasetyono.






0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.