Kamis, 04 Oktober 2018



Setelah mencoba mendapatkan data dari stasium pasang surut di Pantoloan, Palu, Badan Geospasial (BIG) akhirnya berhasil mengungkap waktu persisnya kejadian tsunami yang menerjang Teluk Palu. Berdasarkan data tersebut, di ketahui air surut maksimal terjadi jumat (28/9/2018) pukul 18.08 WITA, sementara pasang maksimal terjadi pada pukul 18.10 WITA.

Menyimpulkan, Mohamad Arief Syafii, Deputi Informasi Geospasial Dasar BIG, mengungkap bahwa tsunami mulai terjadi 6 menit setelah gempa. Sementara pada pukul 18.10 WITA atau hanya 8 menit setelah gempa, tsunami sudah menerjang Pelabuhan Palu di Pantoloan.

Dengan jarak Pantoloan ke kota Palu yang sekitar 28 kilometer, maka Arief mengungkapkan beda waktu gelombang tsunami sampai di Paluselisih nya tidak sampai 1 menit. Menurut data, tinggi maksimum gelombang yang terbaca lewat tide gauge di Pantoloan adalah 2 meter. Tetapi, tsunami yang menerjang Palu jadi lebih. “Gelombang di Palu bisa lebih tinggi karena masuk ke teluk yang lebih sempit dan dangkal. Berdasarkan informasi Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ketinggian di Palu ada yang 6 meter,”kata Arief.

In]formasi baru tentang waktu dan ketinggian tsunami ini bisa menjadi pertimbangan ilmuwan untuk melihat ulang mekanisme yang memicu kejadian yang tak terduga ini. Jeda gempa dan tsunami yang singkat ini menegaskan apa yang sebelumnya telah di ungkap oleh peneliti geoteknologi Lembaga ilmuan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto.

Ia mengungkapkan, dalam konteks Indonesia, mitigasi tsunami perlu di barengi dengan edukasi masyarakat dalam mengenali gempa. “Kasus seperti 25 Oktober 2010 di Mentawai, orang yang selamat yang kita interview saat itu melihat tulisan berpotensi tsunami di televise. Dia keluar, lari sedikit, air sudah mengulung,”katanya.

Eko berpendapat, system peringatan dini bencana alam baru bisa berguna ketika jarak tsunami datang ke darat itu cukup panjang. “Utu memberikan warning pertama yang isinya biasanya kekuatan gempa yang berpotensi tsunami dan untuk mengeluarkan analisis itu perlu paling tidak 3 menit, sebelum deseminasinya,”ungkap Eko.

“Pada kondisi ini, akan lebih efektif kalau ada pendidikan tentang evakuasi tsunami dengan memahami gejala-gejala,”terangnya dlaam konferensi pers di LIPI, selasa (2/10/2018).

Tagged: , , , ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.