Sejauh ini, pemmberian obat yang diberikan kepada npasien batu ginjal hanya sebatas untuk kontraksi otot-otot polos di saluran kencing. Diharapkan, batu akan meluruh sendiri besama urin yang terbuang. Lantas, Hery Tiera, dokte spesialis urologi yang ditemui dalam acara diskusi media yang di gelar di Rumah Sakit Indah Group di Jakarta. Menawarkan sejumlah metode yang bisa ditempuh untuk menyembuhkan batu ginjal.
Belum ada obat yang bisa memecahkan batu ginjal. Obat sebatas mendorong batu keluar. Cara konservatif ini hanya bisa di terapkan ke pasien dengan batu yang ukurannya kurang dari 5 milimeter,”terang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Syarat diperbolehkannya memberikan obat ke pasien batu ginjal yakni selama ukuran batu tidak melebihi ukuran saluran lubang kencing. Pasalnya, ditakutkan batu tidak bisa terdesak keluar, dan justru bertahan di tubuh.
Apabila batu yang mengendap di saluran ureter ukurannya masih kecil, dokterpun ,akan menyarankan pasien lebih banyak meminum air putih supaya curah urin yang keluar lebih banyak. Dengan demikian, urin tersebut lebih kuat dalam menghanyutkan batu keluar dari tubuh.
“Makin besar batu, makin keras tentunya. Jadi harus di pecahkan dengan tenaga mekanis,”sebut Hery. Untuk batu ginjal yang berukuran 5 centimeter hingga 2 centimeter, Hery lebih merekomendasikan metode Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL).
“Metode ini menggunakan gelombang ke jut. Pemecahan batu dilakukan dari luar tubuh. Tidak ada alat yang masuk ke tubuh,üjar Hery. Teknik gelombang kejut ini memecahkan batu menjadi fragman kecil-kecil seukuran ureter. Dengan demikian, batu tersebut bisa terangkut bersama air kencing. Pasien pun harus dalam kondisi ginjal yang baik, tidak ada sumbatan distal, tidak mengidap kelainan pembekuan darah, dan tidak sedang hamil.
Pasien dibaringkan terlungkup di atas ranjang yang dilengkapi mesin USG dan x-ray yang akan menentukan titik dimana abut ginjal berada. Selanjutnya, gelombang kejut akan langsung menghancurkan batu ginjal sesuai lokasi yang telah ditetapkan.
Ïni tidak berbahaya bagi tubuh, tidak ada sayatan, tidka ada pendarahan. Pasien tidak perlu rawat inap,”kata Hery. Pasien ;bahkan bisa menyaksikan langsung proses ESWL ini lewat monitor karena tidak perlu di bius.
Secara total, proses memecahkan batu menjadi serpihan metode ESWL memerlukan waktu sekitar satu jam. Selanjutnya, pasien akan di pantau selama dua minggu apakah batu yang di pecahkan telah keluar bersama urin. Pasien tidak perlu panic ketika mendapati urinnya berubah lebih merah dua hingga tiga kali usai menjalani ESWL. Ini wajar menandakan bahwa batu telah keluar.
Menggunakan gelombang elektrohidolik atau ultrasonic, gelombang kejut ini kan membidik tepat pada titikyang memang ada batu ginjalnya. Getaran yang dihasilkan dari metode ini tidak merusak organ tubuh sekita. Tindakan ini bisa diulang pada dua minggu berikutnya jika dalam 4000 ketukan, batu belum juga pecah tetika di tembak.
“Energi yang di pakai tidak sampai mampu melubangi usus atau organ lainnya. Tingkat keberhasilan hingga 98 persen. ( Dua persen ) sisanya tidak sanggup dihancurkan karena saking kerasnya kalsium pada batu ,üjar Hery.






0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.