Senin, 16 Oktober 2017

GUBERNUR JAKARTA YANG BARU DAN WARISAN

GUBERNUR JAKARTA YANG BARU DAN WARISAN
GUBERNUR JAKARTA YANG BARU DAN WARISAN
Sebagai gubernur baru, Anies-Sandi memiliki potensi untuk membentuk dan membangun struktur, budaya dan proses sosial baru. Perannya sebagai gubernur baru memberi harapan tentang kebijakan yang memihak kepentingan warga. Salah satu wujud harapan adalah menunggu kebijakan (struktur baru) tentang pengaturan reklamasi dan penyelesaian dengan Uang Muka (DP) 0 Rupiah.

Jika dalam kampanye Anies-Sandi dengan tegas menolak reklamasi, apakah kebijakan tersebut setelah dilantik akan berubah. Jika ingin tetap bertahan dengan penolakan tersebut, Anies-Sandi harus berani melakukan "struktur yang diproses lagi". Struktur yang diolah adalah bentuk proses sosial yang ingin menunjukkan bahwa apa kebijakan pemerintah tidak seratus persen selalu benar dan sesuai dengan aspirasi.

Anies-Sandi harus berani bertarung dengan "kepercayaannya" saat dihadapkan dengan kekuatan "kekuatan modal" yang merupakan kepercayaan pihak lain. Untuk memperkuat kepercayaannya Anies-Sandi dapat belajar dari pengalaman Jan Pieterszoon Coen, ketika Jakarta gagal sebagai kota kanal untuk mengatasi banjir.

Ada kebutuhan untuk ruang dialog untuk mendamaikan "kepercayaan" yang berbeda antara pusat dan Jakarta. Sebagai reklamasi adalah warisan dari dosa masa lalu, wajar bila gubernur baru memikirkan masa depan kota yang lebih baik. Jika Ans Sandi akan membuat ide atau janji baru, perhatian harus diambil dan dukungan sumber daya yang siap untuk implementasinya.

Wacana dan gagasan yang diharapkan sulit dilaksanakan seringkali dihindari untuk diterapkan oleh birokrasi. Hal ini terlihat dalam beberapa tahun terakhir ketika tingkat penyerapan anggaran daerah rendah walaupun tunjangan kinerja regional (TKD) yang diterima birokrat sangat tinggi.

Tindakan untuk menghindari masalah, sebaiknya dengan takut berhadapan dengan masalah hukum. Pekerjaan rumah lain yang tak kalah pentingnya bagi Anies-Sandi adalah membangun gerakan budaya di kota. Pengalaman Pengajaran Gerakan Indonesia dan gerakan mengantarkan anak ke sekolah merupakan modal budaya Anies Baswedan yang baik. Jika pada masa pemerintahan Ahok-Djarot terkesan kekuatan struktur yang lebih dominan untuk mengatasi masalah tersebut. Entah kekuatan budaya Anies-Sandi bisa menjadi alternatif pilihan lain.

Dulu Pak Ahok menggunakan kekuatan pasukan oranye atau biru untuk mengatasi sampah di sungai dan gorong-gorong. Apakah kekuatan ini akan dipertahankan oleh Anies-Sandi atau akan menambah kekuatannya dengan memobilisasi masyarakat untuk memperkuat rasa tanggung jawab mereka.

Semua pilihan untuk melakukan perubahan masih sangat terbuka untuk Anies-Sandi. Dukungan lebih akan muncul jika kebijakan atau tindakan tersebut merupakan bentuk "pembangunan manusia". Orang-orang bahagia di kota yang menjanjikan esensi Anies-Sandi adalah warga negara ingin menjadi manusiawi.

Jika dalam waktu singkat banyak kesan positif, hasil yang cepat terlihat dan bermanfaat, maka kondisi ini akan sangat membantu realisasinya bagi warga yang masih sulit untuk "terus maju". Senang bekerja dan berinovasi untuk Anies-Sandi. Warisan lama Jakarta di masa lalu cukup bisa dipelajari agar tidak membuat kesalahan yang sama di masa depan. Lebih banyak warga membutuhkan bukti daripada sekedar janji.

Tagged: ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.