Rabu, 08 Agustus 2018




Munangin (48), seorang tenaga kerja indonesia (TKI) asal tulungagung yang tengah mengadu nasip sebagai buruh petik- angkut kelapa sawit di gabon, Afrika Selatan di laporkan tewas akibat terinjak rombingan gajah liar saat membersihkan rumput di lokasi dia berkerja.

Kepastian meninggal nya pria asal Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, jawa Timur itu di sampaikan pihak keluarga nya saat di konfirmasi wartawan di tulungagung.

“yang pertama mendapat kabar duka adalah kakak ipar saya yang di pasuruan. Ada teman suami di sana (Gabon,Afrika) yang mengabarkan,”kata istri Munangin, Siti Maryamah.

Dalam suasana duka, Siti Maryamah kini hanya bisa pasrah. Harapan kini adalah jasad suami nya segera bisa di pulangkan ke indonesia.

“Kami ingin suami saya misa di makam kan yang layak di sini,”kata nya.

Sampai cerita firasat buruk, Siti mengatakan Munangin biasa nya aktif menelefon ke rumah dan keluarga di indonesia, terutama ke Siti Maryamah.

Namun, sejak senin pagi, TKI asal Tulungagung yang biasa nya aktif menelefon keluarga dua kali sehari itu, tiba-tiba tidak bisa di hubungi. Awal nya, Siti Maryamah tidak menaruh curiga berlebihan, sampai akhir nya kakak ipar Siti Maryamah, iswarin mendapat kabar duka TKI lain yang mengaruhi kejadian nahas tersebut.

Munangis tewas saat sedang berkerja membersihkan rumput di area perkebunan sawit di tempat nya dia berkerja. Namun, saat itu tiba-tiba segerombolan gajah liar yang mengamuk dan mengejar.

“Mendapat informasi tersebut kakak ipar saya yang saat itu tinggal di pasuruan langsung menuju Tulungagung untuk mengabarkan ke keluarga sini ,”katanya.

Anak pertama korban, Saifuroman,(22) mengaku, ayah nya tersebut mulai menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di perkebunan sawit di Gabon, Afrika, sejak tahun lalu.”kami sering komunikasi lewat telefon atau vidio call saat tengah istirahat,”ujarnya.

Tanda-tanda ayah nya sudah tidak ada, dia rasakan seperti tidak enak makan dan tangan terasa dingin terus-menerus. Apalagi, sejak dua hari terakhir, ia dan ayah nya tidak berkomunikasi seperti biasa nya.
“Saya tidak menyangka ternyata firasat yang saya alami merupakan bertanda ke pergian ayah selama-lama nya,”katanya.

 Dia mengaku, terakhir terkhir berkomunikasi dengan ayah nya pada sabtu malam, 4 Agustus 2018.” Kalau waktu terakhir komunikasi, biasa saja seperti waktu-waktu biasa,”kata nya.

Namun, pihak Disosnakertrans Kabupaten Tulungagung belum bisa berkomunikasi terkait kematian Munangin di gabon, Afrika tersebut. Kepala Disosnakertrans Tulungagung yumar sejauh ini belum bisa di hubungi.


Tagged: , , , , ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.