Kamis, 23 Agustus 2018



Valparai, daerah perbukitan di India selatan adalah zona konflik antar spesies, manusia dan gajah. Pada Agustus 2017, seorang pria berusia 60 tahun terinjak gajah liar dan meninggal saat ia menghadiri makam sepupunya. Penduduk sempat melakukan protes dan tuntutan tindakan.

Dia gajah yang telah di latih di gunakan untuk mengusir gajah betina kembali kehutan. Media local melaporkan lebih dari 100 warga menutup jalan raya untuk menyaksikan pengejaran dan pengusiran gajah yang berlangsung selama tiga jam.

Pada akhirnya, gajah itu mati dan tidak ada alasan resmi mengapa gajah tersebut akhirnya mati. Menurut data terakhir yang diumumkan pemerintah tahun lalu, satu orang meninggal di india setiap hari akibat gajah atau macan.

Gajah-gajah juga banyak yang dibunuh. Sementara hewan yang selamat dari pemburuan, banyak yang berakhir dengan tertabrak kereta cepat, diracuni, atau tersengat listrik. Hal ini terjadi terusmenerus, gajah di kejar dengan suara bising dan kendaraa-kendaraan yang disebut”pengejaran dengan kendaraan.”

Studi terbaru mengungkap ada dampak atas kejadian tersebut, yakni gajah liar Asia yang hidup di India mengalami stress berkepanjangan. Para peneliti dari institute Sains Nasional di Bengaluru, India Selatan, yang malakukan studi ini menggunakan kotoran gajah untuk membuktikan nya.

Selama lebih dari enam bulan, Sreedhar Vijay Krishnan dan rekan-rekannya mengumpulkan lebih dari 294 sampel dari 69 gajah liar di Valparai, di pegunungan Western Ghats.mereka meneliti kotoran gajah yang dikejar dalam operasi”pengejaran dengan kendaraan.”Para peneliti memeriksa tingakat hormat yang disebut glucocorticoid.

Binatang yang stress mengeluarkan glucocorticoids, semakin stress gajah artinya hormon glucocorticoids semakin banyak diproduksi. Hormon itu dilepaskan di system sirkulasi darah dan terbuang melalui kencing dan kotoran.

Sanjeeta Sharma Pokharel, seorang peneliti dari Pusat Okologi Sains, mengatakan mengukur glucocorticoids dengan menggunakan kotoran segar hewan merupakan cara yang lebih etis dalam mempelajari tingkat stress gajah.

Cara lain termasuk menggunakan sampel darah namun mengumpilkan binatang juga akan meningkatkan stress. Studi ini menunjukkan, tingkat stress gajah yang tinggal di kawasan yang didomonasi manusia sama saja dengan hewan-hewan yang tinggal di hutan Vazhachal yang terganggu.

Namun, gajah-gajah ini tak dapat beradaptasidengan stress akibat pengejaran dengan kendaraan.  Pengejaran dengan cara ini menggunakan suara bising guna mengusir gajah, termasuk menggunakan gendering, klakson dan mercon.

“Langkah itu itu merupakan penyebab itama terjadinya stress,”kata Sreedhar. Setelah di kejar, gajah dewasa mengalami peningkatan stress sampai 40 persen lebih tinggi. Bayi-bayi gajah yang paling mengalami dampak terparah, dengan peningkatan stres 100%.

“Interaksi negated seperti ini yang menyebabkan stress dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup gajah dan reproduksi,”kata Vijaya Krishnan. Studi , yang diterbitkan di Perbandingan Endokrinologi, menyeruhkn langkah yang lebih proaktif dalam mengusir gajah dan meminimalkan gangguan manusia serta menciptakan tempat sehingga gajah bisa bergerak bebas.

Tagged: , ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.