Rabu, 11 Oktober 2017

INDONESIA MASIH BUTUH BANYAK PENGELOLAAN LIMBAH ELEKTRONIK SWASTA

INDONESIA MASIH BUTUH BANYAK PENGELOLAAN LIMBAH ELEKTRONIK SWASTA
Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi sekitar 250 juta orang menjadi salah satu produsen limbah elektronik terbesar di dunia. Upaya pengelolaan limbah elektronik dalam negeri oleh pihak swasta dengan pemerintah masih menghadapi masalah.

Sejumlah pakar konservasi lingkungan mengadakan pertemuan internasional yang diadakan di Jakarta dari 2-6 Oktober 2017 dengan tujuan untuk menemukan solusi dalam manajemen pengelolaan limbah elektronik yang diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat Agency (USEPA) dan pemerintah dalam penanganan limbah elektronik di sejumlah negara berkembang.

Pertemuan tahun ini sendiri bertemakan "Brown to Gold" diikuti oleh perwakilan dari Amerika Serikat, Argentina, Brazil, Cile, Filipina, Jerman, Kamboja, Kolombia, Malaysia, Meksiko, Thailand, Taiwan dan Indonesia sebagai tuan rumah. Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah dan B3 Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK), Tuti Hendrawati Mintarsih menyampaikan, isu limbah elektronik selalu menjadi masalah utama di negara berkembang.

"Ini karena Indonesia dan negara berkembang lainnya tidak memiliki fasilitas lengkap untuk mengelola limbah elektronik," jelasnya. Menurut dia, Indonesia harus belajar ke negara maju tentang penanganan sampah elektronik. Negara maju tidak hanya mengumpulkan komponen dari limbah elektronik, tapi juga mengelolanya untuk didaur ulang menjadi logam bernilai tambah.

Jurnal Internasional Ilmu Lingkungan dan Pembangunan mencatat pada tahun 2015 ponsel yang diproduksi di Indonesia mencapai 4.375 ton per tahun. Limbah elektronik hanya sekitar 3.176 ton per tahun. Padahal jika dikelola dengan baik dan serius, 1 ton limbah elektronik bisa menghasilkan sekitar 1,44 kg emas, perak dan logam lainnya. Limbah elektronik yang sebenarnya bisa dikelola oleh investor agar bisa mendapatkan nilai lebih seperti konten yang dibutuhkan oleh industri manufaktur nasional.

Sehubungan dengan pertemuan ini, sejumlah delegasi pelestarian lingkungan melakukan kunjungan kerja ke salah satu perusahaan pengelola limbah elektronik di Indonesia, yaitu PT Mukti Mandiri Lestari yang berada di Delta Cikarang, Kabupaten Bekasi. Perusahaan ini difokuskan sebagai pengelola limbah B3 dan Non B3, daur ulang daur ulang dan pengolahan limbah elektronik.

Berdiri sejak tahun 1997 dan memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam pengelolaan limbah dari berbagai industri manufaktur di Indonesia. Memiliki visi pelestarian lingkungan yang berkelanjutan, sekaligus menjadi pelopor dalam implementasi pengelolaan manajemen mutu internasional (Integreted Waste Management Solution).

PT Mukti Mandiri Lestari saat ini memiliki sejumlah legalitas dan lisensi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengantongi sertifikat manajemen standar ISO 9001: 2013, serta standar pengelolaan lingkungan ISO 14001 dari lembaga sertifikasi dunia TUV. Sebagai komitmen dari manajemen puncak PT Mukti Mandiri Lestari untuk pelestarian lingkungan Indonesia.

"Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah elektronik, kami secara aktif terlibat dalam" Konvensi Bassel ", sebuah asosiasi pengelolaan limbah internasional dari seluruh dunia," kata Direktur Utama PT Mukti Mandiri Lestari, Wawan Budiawan di Jakarta, Senin (9 / 10).

Ini juga menjadi tuan rumah kunjungan kerja sejumlah asosiasi perusahaan dan perdagangan serta agen pemerintah di dalam dan luar negeri sebagai upaya untuk berkolaborasi dalam pengelolaan pengelolaan limbah seperti Japan External Trade Organization (Jetro), Japan International Cooperation Agency (JICA) , Environmental Protection Agency Taiwan (EPAT) dan United States Environmental Protection Agency (USEPA).

Tagged: ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.